Sabtu, 12 April 2014
Rabu, 05 Maret 2014
Aku dan Banjir
cerita ini diambil dari sebuah kisah seseorang. seseorang yang dimana sudah mengandungku selama 9 bulan 10 hari dan sampai saat ini dia masih merawatku hingga aku menjadi seperti ini. yukkk langsing saja ini dia ceritanya...................cekidot haha
sore itu, saat dimana aku dan kedua adikku Rani, sedang berada pada tempat pengajian. tempat itu seperti rumah kedua bagi kami, gurunya pun sudah mengenal siapa kami. oh ya aku Rini, aku bersekolah dia salah satu sekolah menengah atas disuatu daerah. ya letakknya sanga jauh, tapi bagiku itu adalah sebuah petualangan yang sangat seru. aku anak ke 4 dari lima bersaudara. aku dan Rani adalah anak perempuan yang berada dikeluarga itu. sejak kecil aku sudah diajarkan untuk mandiri oleh kedua orangtuaku, sampai-sampai aku mengumpulkan uang jajanku hanya untuk membeli barang-barang model terbaru. saat aku SMA aku sudah bekerja, walaupun penghasilanku tidak sebanyak yang aku harapkan. tetapi itu cukup untukku. terkadang aku kasih uang itu kepada ibu dan ayahku untuk mereka simpan kelak aku sudah besar nanti. aku bercita-cita menjadi pramugrasi, tapi sayang cita-cita itu ditolak mentah-mentah oleh orangtuaku. mengingat banyak sekali yang kecelakaan pesawat. tetapi aku tetap meneruskan perjuanganku agar bisa membahagiakan kedua orangtuaku. mengingat aku bukan dari keluarga kaya yang hanya bisa mengandallkan kekayaan dari orangtua.
pagi itu, saat aku berjalan menuju sekolahku bersama dengan teman-temanku, dahulu jakarta tidak seperti sekarang, yang banyak bangunan besar didirikan. dulu aku masih bisa melihat saawahh, jalan yang berbecek dan pohon-pohon yang begitu indah bila dipandang. saat menelusuri jalan, aku lelah, aku sangat lapar tetapi aku tidak dibekali makan oleh ibuku. akhirnya akupun bertemu dengan salah satu penjual gorengan yang sudah lama aku kenal, ia baik kepadaku. akupun ingin membeli tp uangku tidak mencukupinya. pedagang itupun menawarkan akankah aku jadi membelinya? akupun menjawabnya dengan perasaan tidak enak kepada pedagang itu. sungguh sangat tidak ku duga, pedagang itu menawarkan dengan ikhlas, ya dengan gratis. tadinya aku tidak mau menerima makaanan itu karna aku merasa hutang kepadanya. yap, akhirnya lagi aku memakan makanan itu dengan janji akan membayarnya besok. setelah makan gorengan itu, aku melanjutkan perjalanan ke sekolah dengan teman-teman. terasa indah bila bisa ketawa bersama orang-orang yang kita sayangi.
dikelas...........saat semuanya sedang istirahat, aku melanjutkan tugas yang diberikan guru kepadaku. terdengar suara yang memanggilku untuk keluar. ya suara itu adalah kakak kelas yang suka kepadaku. mereka bilang aku cantik, pintar, baik dan lain lain. bagiku, inilah aku, aku apa adanya bukan ada apanya. aku juga tidak mau dipuji secara berlebihan karna mungkin saja hal itu membuat aku menjadi tinggi hati. aku pun beranjak keluar untuk menemuinya tetapi disisi lain ada beberapa orang geng dari kakak kelas melihatku menemui kakak kelas cowo lainnya. sebenernya aku ingin berteman dengan siapa aja, tetapi mengapa aku dianggap salah jika aku hanya sekedar berteman dengan seniorku orang yang lebih tua dari ku. geng itu melihatku dengan sinis tetapi aku hanya membalasnya dengan senyuman. suatu ketika kakak kelas cowo yang sering menghampiriku menyatakan cintanya kepadaku. mungkin kalau sekarang ini sebuah ftv yang sering remaja tonton tetapi ini memang asli. banyak kakak kelas cowo yang menyatakan cintanya kepadaku tetapi aku tidak menerima dari mereka satupun, bagiku pertemanan dan persahabatanlah yang paling langgeng daripada yang lainnya. aku juga tidak mau mengganggu pelajaran dan sekolahku. difikiranku kebahagian dan kesuksesan dimasa depan yang paling penting.
bel pulang pun berbunyi, aku pun pulang dengan teman-temanku sekaligus mereka adalah sahabatku yang ada disaat aku suka dan duka. kakak kelas cowo itu tetap menghampiriku dan mengajak pulang bareng. ya dan akhirnya aku pulang bersama dia dan sahabat-sahabatku juga. hari-hari terus berlalu sebagaimana kita adalah makhluk sosial. setelah pulang sekolah aku bergegas untuk membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah, aku mengepel, menyapu dan menyetrika. bagiku itu adalah suatu kewajiban yang harus dilakasanakan kelak kalau sudah berumah tangga kita tidak akan kaget dengan hal-hal seperti itu. selesai mengerjakannya aku pergi ketempat pengajian dengan adikku Rani. samoai ditempat akupun mengaji dan aku membantu guru ngajiku agar aku bisa mendapatkan uang dengan cara sendiri bukan dari mengemis ke orangtua. beberapa hari aku telah membantu guru ngajiku dan aku mendapatkan uang yang uang itu akan aku bayar untuk keperluanku sendiri juga membayar hutang kepada pedagang gorengan itu.
sore itu terlihat cuaca sedang tidak baik, awanpun menjadi tidak bersahabat denganku. matahari yang seharusnya terbenam nanti, kini sudah terbenam meninggalkanku sendiri dengan awan-awan yang menghitam. perlahan demi perlahan terdengar rintikan yang berasal dari awan hitam itu. awanpun menangis, menangis dengan deras yang membuat serapan air tidak dapat menampunginya lagi. daerahku memang daerah yang berada di dataran rendah, jika hujan terjadi dengan derasnya seringkali, luapan air datang dengan bergerombolan ke jalan bahkan masuk kerumah-rumah dengan menggelamkan barang-barang, bahkan luapan air itu adalah kiriman dari berbagai daerah. aku dan Rani ingin pulang, tetapi guruku melarang aku untuk keluar dari tempat itu karna dikabarkan daerah rumahku banyak air yang meluap dari sungai. sampai kapan aku harus tetap disini, bagaimana orangtuaku, abang-abangku, pasti mereka sedang sibuk mengangkut barang ketempat yang lebih tinggi. sayangnya, air sangat cepat datang, hanya beberapa barang saja bisa dibawa ketempat yang lebih tinggi. panggil saja mereka tono dan yanto, mereka adalah abang-abangku yang selalu menjaga aku dan Rani. mereka menjemputku di tempat pengajianku, aku dan Rani pamit pulang. kami berjalan menelusuri jalan dengan payung yang melindungi kami akibat tangisan awan itu. aku terkejut melihat ada tali yang mengelantung di atas, dan ternyata tali itu untuk orang-orang yang ingin kerumahnya dan harus melewati ribuan air yang sedang berkumpul. sampai dirumah aku membantu ibu, ayah dan abangku yang satu lagi, yaa panggil saja adit. karna rumah kamu sudah terkepung oleh banjir, kami tidak bisa makan makanan yang dimasak oleh ibu bahkan ayah kami. tetapi ibu adalah sosok pahlawan bagi kami, ia rela membeli banyak makanan jika kalau banjir melanda rumah kami. aku dan keluargaku tidak menjadi kelaparan dan tetap aku dan keluargaku bisa makan makanan yang enak walaupun bukan masakkan ibu dan ayah. tak lupa kami membaginya kepada pengungsi yang lain, aku senang karna aku bisa berbagi disaat kecukupan yang harus dibatasi. bagiku, Allah tidak tidur, Allah akan terus melihat hamba-hamba-Nya. bukan hamba-hamba yang selalu mengeluh jika kesusahan dan lupa jika diberi banyak nikmat. dari sinilah banjir yang sering melanda daerahku khususnya rumahku, sampai-sampai menenggelamkan barang-barang dan mengangkut barang-barang sesuka hatinya. aku belajar bagaimana kita harus bersabar, berbagi dan bersyukur jika kita menghadapi musibah. mungkin aku tidak akan kenal arti sabar, berbagi, dan bersyukur jika banjir tidak bersamaku.
tamat hehehe. maaf kalau rada ya gitu, kalau gasuka gausah dibaca hehehe makaasihhh ;)
Langganan:
Postingan (Atom)
